Kalo boleh dibilang hari ini dimulai dengan rasa yang membingungkan...
Kenyataan bahwa gue udah diterima di tempat kerja baru ternyata ga cukup melegakan hati. Untuk sedikit informasi, gue baru dinyatakan lolos seleksi penerimaan di suatu perusahaan yang bergerak di dunia perminyakan, disalah satu bilangan daerah kota jakarta. Sesaat setelah pengumuman hasil interview cukup membuat gue riang gembira karena akhirnya keinginan gue untuk resign dari kantor lama akan segera terkabul. Puji syukur gue panjatkan ke hadirat Tuhan karena udah dikasih kesempatan lolos ujian seleksi. Oke, keriangan itu ga berlangsung lama. Singkat cerita untuk beberapa jam kemudian gue dapet SMS dari tante gue, yang adalah HRD perusahaan itu, tapi eitsss... jangan salah paham dulu, gue bisa lolos seleksi tanpa nepotisme apapun, karena gue sama si tante ga terlalu deket dan gue bisa masuk bener-bener melalui tes tertulis. Bunyi SMS-nya kira-kira berinti kalo bekerja di perusahaan itu ada beberapa kekurangan yang akan gue temui. Segeralah-kan gue drop! Sampe akhirnya untuk kemudian gue jadi berpikir lebih panjang, apakah gue akan memutuskan untuk pindah kesitu, atau tetep stay di kantor lama. Keputusan jatuh pada pemikiran bahwa, gue harus berani coba sesuatu yang baru, dan hal-hal yang akan menghampiri setelahnya, baik itu keuntungan, maupun kerugian, biarlah menjadi pelajaran dan pengalaman yang berharga buat gue. Well, sejauh ini tekad gue bulat untuk resign.
Kemudian sampe rumah (setelah tes) keraguan kembali mulai menghampiri. Beberapa kali minta pendapat ke orang terdekat, jawaban yang gue dapat hanyalah penambah ketidak-pastian. Sampe akhirnya gue memberanikan diri untuk konsul langsung ke bos gue di kantor yang sekarang ini (kantor yang gue rencana akan ajukan surat resign). Keputusan gue untuk konsul ternyata semakin mencerahkan... yakni mencerahkan bahwa ga seharusnya gue cabut dari kantor yang sekarang. Hati gue makin bimbang, dan lebih lanjut semuanya tiba-tiba absurd dan sedikit mengecewakan. Timbul hal-hal negatif, mulai dari yang sepele, sampe yang menurut gue adalah hal krusial. Hati ini makin sesek dan serasa kehilangan arah. Timbul satu pertanyaan pamungkas yang bener aja bikin gue drop, hampir terisak nangis, tentang kemana sih hidup gue akan gue bawa? Sebenarnya gue ini hidup untuk siapa sih? Kenapa semuanya terasa begitu membebani gue? Latar belakang keluarga yang (bisa dibilang) sederhana, latar belakang orang tua yang adalah sangat kolot dan otoriter, latar belakang kaka gue yang agak bangke, sampe latar belakang pribadi gue yang labilnya ngalah-ngalahin anak sevel *eh*
Semuanya cukup mengakibatkan gue cranky sepanjang hari dan makin berasa bodoh. Gue hari ini bawaannya emosi, linglung, dan sahabat-sahabatnya lah... Sampe akhirnya teriakan jiwa ini meminta tolong kepada sang yang bertahta atas diri ini, yakni Tuhan Yesus. Tapi teriakan yang tak terjawab ini malah makin membuat frustasi. Gue bener-bener butuh pencerahan... kalo perlu penyembuhan total baik jasmani maupun rohani. Udah terlalu penuh isi kepala ini akan hal-hal yang mengecewakan. Udah terlalu cape hati ini menahan tangis karena menjunjung tuntutan sebuah kodrat akan kenyataan bahwa gue adalah seorang pria, yakni ga boleh nangis, ga boleh cepet putus asa, harus bisa mengambil keputusan, harus punya target hidup, yada yada yada...
MENGAPA TUHAN, MENGAPA? JAWAB AKU YA TUHAN, JANGAN TINGGALKAN AKU! ARAHKAN KU YA BAPA, KARENA KU BUTUH ENGKAU SAAT INI! TOLONG AKU TUHAN, HAMBAMU YANG TAK BERDAYA INI! KASIHANI AKU YA TUHAN, ANAKMU YANG TAK MENGERTI AKAN RENCANAMU! TUHAN AKU BUTUH ENGKAU! AKU BUTUH ENGKAU!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar